Hasan al-Bashri berkata, “Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa orang, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham.” (Syarhus Sunnah, juz: 14).

Hammam bin al-Haris berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan sedikit tidur dan anugerahkan kepadaku bangun malam dalam ketaatan.” (Sifatus Shafwah, 3:22). Mungkin doa yang dipanjatkan Hammam ini tidak pernah terpikirkan di benak kita, bagaimana seseorang bisa terpikir berdoa kepada Allah agar dicukupi dengan sedikit tidur demi memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Kita lebih sering meminta agar tidur kita pulas dan nyenyak dan tidak jarang tertinggal shalat subuh di masjid.

Ibnu Aqil al-Hanbali mengisahkan perjalanannya menuntut ilmu dan fokus terhadap apa yang ia cita-citakan sehingga ia menjadi seorang ulama yang terpandang. Beliau mengatakan, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, tatkala lisanku telah membaca dan berdiskusi, mataku lelah membaca, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan beristirahat dan berbaring. Sehingga aku berdiri dalam keadaan ide-ide yang banyak dalam benakku lalu, aku tuangkan ide tersebut dalam tulisan. Aku dapati kesungguhanku dalam belajar lebih kuat saat aku berusia 80 tahun dibanding waktu aku berumur 20 tahun.” (al-Muntadzim fi Tarikhil Umam, juz: 9).

Amir bin Abdul Qais rahimahullah melewati orang-orang pemalas dan senang menganggur. Mereka duduk berbincang-bincang tanpa arah, lalu menyapa Amir dengan mengatakan, “Kemarilah, duduklah bersama kami.” Amir menjawab, “Tahanlah matahari agar ia tidak bergerak, baru saya akan bergabung duduk-duduk dan berkelakar bersama kalian.” (Shaidul Khatir).

Terkadang untuk mengisi waktu agar lebih bermanfaat, para ulama melakukan hal-hal yang tidak lazim, yang mungkin kita pandang aneh, namun hakikatnya adalah untuk menyempurnakan usia mereka agar lebih berkah dan bermanfaat setiap detiknya. Sebagian di antara ulama salaf mewasiatkan kepada teman-temannya, “Apabila kalian pulang dari tempatku ini, maka berpencarlah (jangan berjalan bersama-sama). Karena kalian bisa memanfaatkannya untuk membaca Alquran (dengan hafalan kalian ed.). apabila jalan bersama-sama, pasti kalian akan ngobrol.” (Shaidul Khatir).

Nafi’, pembantu Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ditanya, “Apa yang dilakukan Abdullah bin Umar di rumah bersama keluarganya?” Dia menjawab, “Berwudhu setiap (waktu) shalat dan di antaranya adalah mushaf.” (Zadul Muslim, juz:3). Mungkin ada yang bertanya, “Apakah Abdullah bin Umar tidak berkomunikasi dengan keluarganya, apakah beliau tidak membantu keluarga dan mencari nafkah?” Kita berprasangka baik, tentu orang seperti beliau memenuhi hak anak dan istrinya, namun di waktu-waktu sela, ia selalu membaca Alquran untuk memanfaatkan detik-detik usianya sehingga Nafi’ menilai beliau dengan kebiasaannya tersebut.

Para ulama salaf juga mengisi waktu mereka dengan ilmu dan amal bahkan ketika hendak meninggal dunia. Ibrahim bin al-Jarrah berkata, “Imam Abu Yusuf al-qadhi rahimahullah sedang sakit. Saya pun menjenguknya. Saat itu dia tidak sadarkan diri. Ketika terjaga, beliau lalu bersandar dan mengatakan, “Hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?” Saya menjawab, “Dalam kondisi seperti ini?” Dia mengatakan, “Tidak mengapa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karena kita memecahkan masalah ini.” Lalu saya pulang, ketika baru sampai rumah, saya mendengar kabar bahwa beliau telah wafat.

Demikianlah para salafush shaleh, mereka memohon kepada Allah agar usia mereka penuh keberkahan dan membuktikannya dengan usaha yang serius agar waktu mereka adalah waktu yang bermanfaat. Mereka benar-benar fokus terhadap apa yang mereka cita-citakan dan berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Mereka juga memikirkan kepentingan orang lain dalam waktu-waktu sempit mereka. Semoga Allah merahamti mereka semua dan member taufik kepada kita untuk mencontoh mereka.

Sumber: kisahmuslim.com/3604-meneladani-ulama-dalam-menjaga-waktu.

 

****

*#Ayo Bangun Rumah di Surga!!*

Penyelesaian Struktur Lantai Utama (lantai 2) Masjid Umar Bin Khattab

Mulai dari Rp. 100.000,-

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, *maka Allah bangunkan baginya rumah di surga*.” (HR. Ibnu Majah)

Silahkan berdonasi dengan cara berikut:

1. Transfer ke salah satu rekening:

Bank Syariah Mandiri (BSM)
Kode Bank: 451
Nomor rekening: 79-999-888-94
an. Yayasan Intan Ilmu

Bank Mandiri (MANDIRI)
Kode Bank: 008
Nomor rekening: 031-00-1069-7186
an. Yayasan Intan Ilmu

BCA (BCA)
Kode Bank: 014
Nomor rekening: 827-52-62-664
an. Ahmad Zainuddin

2. Konfirmasi Transfer, SMS/WA dengan format:
LANTAI 2 # NAMA # DOMISIL # REKENING TUJUAN # NOMINAL

Contoh :
LANTAI 2 # Abdurrazzaq # Banjarmasin # BSM # 100 Ribu

Kirim ke WA/SMS : * 0811-511-3737 *

Barakallahu fiikum.
Silahkan Bantu Sebarkan Info Ini
Semoga Bermanfaat.

ADMIN : INTAN ILMU

Follow:
FB FanPage : Pondok Pesantren Intan Ilmu
FB FanPage : Pondok Pesantren Intan Ilmu
IG :@PondokPesantrenIntanIlmu
IG :@PondokPesantrenIntanIlmu
www.intanilmu.or.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.